Berita Harian Tentang Air Bersih Berita Air Bersih Masalah Air Bersih di Perkotaan Semakin Memprihatinkan

Masalah Air Bersih di Perkotaan Semakin Memprihatinkan



Sudah barang tentu jika dibandingkan dengan daerah pedesaan, maka kualitas atau bahkan ketersediaan air bersih di perkotaan sangatlah berbeda jauh. Menurut penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2014 lalu, kualitas air bersih dan air tanah yang ada di perkotaan semakin lama semakin jauh dari kata bagus dan juga ketersediaannya semakin menipis.

Walaupun statusnya adalah kota, namun justru banyak penduduk di daerah perkotaan yang justru tidak memanfaatkan pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) karena faktor biaya yang harus ditanggung setiap bulannya dan lebih memilih untuk membuat sumur agar dapat mengambil air dari tanah secara langsung dan gratis. Terlebih lagi, menurut LIPI, PDAM hanya mampu memenuhi sekitar 40 persen dari total kebutuhan air seluruh masyarakat di perkotaan.

Masyarakat di daerah perkotaan akan semakin terasa sengsara ketika musim kemarau melewati batasnya atau juga ketika musim penghujan tiba. Ketika musim kemarau tiba, maka jumlah ketersediaan air tanah semakin menipis karena selain mengering, juga ‘diperebutkan’ oleh banyak orang yang ingin menggunakannya. Sedangkan ketika musim penghujan tiba, kualitas air tanah menjadi berkurang karena air menjadi keruh tercampur tanah.

Kurangnya persediaan air bersih untuk masyarakat di perkotaan diperparah dengan keberadaan pabrik-pabrik besar yang tidak semua mengolah limbah cairnya menjadi sesuatu yang tidak berbahaya sebelum dibuang ke alam lagi. Dikarenakan limbah tersebut maka air tanah yang seharusnya dapat dikonsumsi secara langsung akhirnya terkontaminasi dan berbahaya.

Tidak hanya itu saja, kurangnya kesadaran masyarakat perkotaan akan kebersihan lingkungan juga membuat air-air sungai yang seharusnya dapat dimanfaatkan lebih baik lagi menjadi keruh, kotor dan berbau.

Akhirnya, dengan segala masalah yang terjadi di atas, maka menjadi lumbung basah bagi orang-orang yang memang sengaja menggunakan air bersih sebagai media pencari uangnya, yaitu dengan menjualnya ke masyarakat. Bahkan, masyarakat pun tidak memiliki hak tawar ketika harga yang sudah ditetapkan oleh para penjual air bersih dirasa terlalu tinggi.

Dikarenakan kebutuhan sehari-hari itulah, maka membuat masyarakat perkotaan mau tidak mau harus mengeluarkan uang agar dapat membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, menjadi satu pemandangan yang lazim terjadi ketika truk-truk tangki berisikan air bersih datang, maka banyak masyarakat yang langsung berbondong-bondong menyerbunya.

Memang sampai sekarang ini atau setidaknya sampai tahun 2020 mendatang, khususnya di Pulau Jawa, ketersediaan air bersih yang berasal dari tanah masih cukup untuk digunakan seluruh masyarakat di pulau terpadat di Indonesia ini. Akan tetapi menurut penelitian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), seperti yang dikutip dari Antara, Indeks Penggunaan Air (IPA) di Pulau Jawa dan Bali semakin tahun akan semakin meningkat.

Bahkan diperkirakan sampai tahun 2025 mendatang, air tanah dan kualitas air bersih akan mengalami penurunan secara dratis, terutama pada musim kemarau. Hal itu disebabkan masalah polusi, semakin panasnya suhu udara dan meninggkatnya populasi penduduk.

Pihak BPPT mencontohkan bahwa jika membuat perbandingan, pada tahun 1930 lalu, Pulau Jawa dan Bali mampu memasok sekitar 4.700 meter kubik per kapita per tahunnya, namun akhirnya hanya sebesar kurang dari 1.200 meter kubuk per kapita per tahunnya pada tahun 2020 mendatang. Bahkan pada tahun 2020 itu, 35 persen air yang ada tidak layak untuk dikonsumsi atau bahkan untuk dikelola lagi.

Jadi, diperlukan pemikiran dan solusi tepat untuk mengatasi masalah tersebut agar tidak terlambat ketika benar-benar ketersediaan air bersih, terutama di perkotaan semakin menipis dan mendekati habis.

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *